Friday, October 31, 2008

Puisi untuk para metode itu

Wahai fuzzy
Wahai komputasi evolusioner
Wahai jaringan syaraf tiruan
Mungkinkah kalian bersatu?

Monday, October 27, 2008

Sumpah Pemuda - 17 tahun "Indonesia" dijajah

Dulu ketika SD dan SMP, guru sejarah sering memberikan pertanyaan: Berapa lama Indonesia dijajah? Ketika diberi pertanyaan itu, maka cepat-cepat kita mengacungkan jari kita dan menjawab: "350 tahun, Bu"....

Ternyata, setelah hal ini dikaji, ternyata 350 tahun ini hanyalah sebuah bahasa mulutnya Bung Karno untuk membangkitkan semangat bersatu bangsa Indonesia ketika itu. Buya Syafi'i Ma'arif mengatakan, Indonesia itu dijajah cuma selama 17 tahun. Karena pada saat VOC datang pada tahun 1605, yang ada hanyalah negara kerajaan: Majapahit, Demak, Samudra Pasai, Kutai, dan lain-lain. Itupun waktu penguasaannya berbeda-beda. Istilah Indonesia baru muncul pada saat sumpah pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Dengan kata lain, Indonesia dijajah hanya dari tanggal 28 Oktober 1928 sampai dengan 17 Agustus 1945. Atau lebih jelasnya, memang 17 tahun seperti yang dikatakan oleh Buya Syafi'i itu.

Mungkin untuk sekalian memperingati sumpah pemuda, berikut akan saya kutipkan kembali naskah sumpah pemuda:

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah satu, tanah air Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia

Friday, October 24, 2008

Mission ini possible

Ini bukan parodi film, melainkan judul sebuah buku karya Mas Misbahul Huda, direktur PT Temprina, percetakannya Jawa Pos.

Buku ini disampaikan dengan bahasa yang sederhana, tapi bagus luar biasa. Karena itulah, pada saat launching buku itu di Solo, saya dan istri yang sudah membaca bukunya, serta beberapa alumni pondok pesantren budi mulia mbela mbelain datang (kebetulan mas huda ini dulu juga nyantri di ppbm).

Buku ini merupakan buku motivasi yang diperkuat oleh catatan-catatan kehidupan mas huda sendiri. Cerita pengalaman hidup beliau inilah yang membuat buku ini sangat membumi, sehingga sangat menggugah dan menginspirasi. Gabungan antara nuansa semangat, agamis, realitas, terasa kental menyatu.

Salah satu hal yang cukup menarik adalah cerita ketika beliau lulus kuliah, kemudian memutuskan untuk nikah walaupun belum punya pekerjaan. Idealismenya yang kuat mendorongnya untuk menolak tawaran menjadi dosen dan tawaran menjadi pegawai Pertamina. Karena sudah menikah, setelah sekian lama tinggal di rumah ortunya dan mertuanya, beliau dan istrinya kemudian 'diusir'. Tapi, justru di sinilah titik baliknya. Beliau masuk ke Jawa Pos. Sebagai lulusan elektro ugm tercepat cumlaude, beliau tidak merasa gengsi bekerja kasar. Teladan beliau adalah Ali bin Abi Tholib. Ali adalah orang yang luar biasa cerdas, tapi bekerja menjadi kuli pasar. Pengalaman pengalaman inilah yang mengajarkan ketulusan, kesungguhan, dan sejuta pelajaran hidup yang lain yang membentuk seorang Huda.

Ada tiga kata yang cukup menarik yang tertulis dalam kaos yang diberikan sebagai souvenir di acara peluncuran buku itu. Mungkin kata-kata ini juga bisa mewakili apa yang ditulis oleh mas huda di buku luar biasa ini. Tiga kata itu adalah: tulus fokus tembus

Di stand penjualan, saya beli dua. Satu mau saya kirim untuk sahabat saya udi samanhudi yang sekarang jadi dosen bahasa inggris Untirta, Banten, dan satu lagi untuk Pak Adin, paklik saya yang sekarang menjadi asisten manager di hotel aston, maluku. Mudah2an buku ini bisa membantu perjuangan luar biasa mereka

Tuesday, October 14, 2008

Ramainya Pemanfaatan Games untuk non-hiburan

Dulu, games/permainan komputer kita kenal sebagai hiburan di sela-sela kepenatan. Games hanyalah menjadi bagian sampingan dalam kehidupan kita.

Sekarang, nampaknya ada yang sedikit berubah dengan cara orang memandang games ini. Games mulai digunakan untuk menanamkan hal-hal tertentu kepada para penggemarnya. Menurut saya, awalnya mungkin dari banyaknya polemik yang muncul pada games GTA (Grand Theft Auto). GTA adalah games yang diciptakan oleh Dave Jones yang dipopulerkan oleh Rockstar games. Games ini memicu kontroversi karena banyaknya kasus-kasus kejahatan (penembakan, perampokan, pencurian, pemukulan, dan lain-lain) yang dilakukan oleh remaja yang terinspirasi oleh games ini.

Nampaknya besarnya pengaruh games inilah yang kemudian disadari oleh banyak orang. Kalau saya tidak salah ingat, pada saat Sarah Palin mengatakan sesuatu yang diperkirakan akan mendorong pemanasanan global, muncul kemudian games dimana kita diminta untuk menyelamatkan beruang kutub. Beberapa saat sebelumnya, ada games yang dibuat untuk meningkatkan kepedulian remaja Amerika terhadap politik, yang diharapkan akan meningkatkan angka partisipasi mereka dalam pemilihan umum. Baru-baru ini microsoft bahkan mendirikan sebuah institut, Games for Learning Institute (G4LI), dengan bekerjasama dengan New York University, Columbia University, the City University of New York, Dartmouth College, Parson, Polytechnic Institute of NYU, the Rochester Institute of Technology, serta Teachers College.

(O, iya... jadi ingat, dulu kan anak-anak informatika UII pernah ada yang menang lomba games nasional? Bapak Ibu dosen, ayo dimanfaatkan.... Mungkin ke depan ini bisa jadi branding UII.

"Mencetak pembuat games bersertifikasi". hehe)


Mungkin untuk informatika UII, bisa dibuat satu lab khusus untuk games atau bisa juga untuk bapak/ibu dosen dibuat satu lagi bidang konsentrasi, yaitu games.

Sunday, October 12, 2008

Hadis tentang shalat dalam pandangan logika matematika -- sekedar iseng :D

Rasulullah SAW pernah bersabda: "Yang pertama akan dihisab dari seorang hamba adalah shalatnya. Jika baik shalatnya, maka baiklah seluruh amalannya dan jika buruk shalatnya, maka buruklah seluruh amalnya".

Kita akan mengotak-atik bagian terakhir dari hadis ini yaitu "Jika baik shalatnya, maka baik seluruh amalannya, dan jika buruk shalatnya, maka buruklah seluruh amalannya" . Kalimat ini bisa dipecah menjadi dua kalimat majemuk:
- jika baik shalatnya, maka baik seluruh amalannya
- jika buruk shalatnya, maka buruk seluruh amalannya.
Kedua kalimat majemuk itu dihubungkan dengan kata hubung "dan"

Kalimat tersebut kemudian bisa dibuat menjadi kalimat tunggal simbolis sebagai berikut:
- p = baik shalatnya
- q = baik seluruh amalannya
- ~p = buruk shalatnya
- ~q = buruk seluruh amalannya
Dengan demikian, maka bentuk kalimat majemuk tersebut adalah sebagai berikut
(p -> q) & (~p -> ~q)

Untuk kalimat paling luar yang dihubungkan dengan dan (&), kalimat itu benar jika dan hanya jika keduanya bernilai benar. Artinya kalimat ini benar jika kedua kalimat yaitu (jika baik shalatnya, maka baik seluruh amalannya) dan kalimat (jika buruk shalatnya, maka buruk seluruh amalannya) bernilai benar.

Karena kedua kalimat itu merupakan sebuah implikasi, maka kalimat itu akan bernilai salah jika dan hanya jika anteseden (bagian depan) bernilai benar dan konsekuen (bagian belakang) bernilai salah.
Misalkan - pada kalimat pertama:
- shalatnya baik (B)
- baik seluruh amalnya (S)
atau - pada kalimat kedua:
- shalatnya tidak baik (B)
- buruk seluruh amalnya (S)

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa:
- tidak mungkin orang yang shalatnya baik, tapi tidak baik amalannya. (kalimat pertama)
- tidak mungkin orang yang shalatnya tidak baik, tapi baik amalannya. (kalimat kedua)

Buat menambah nuansa islami di rumah anda

Walaupun cuma rekaman di rumah dengan mikrofon biasa, tapi lumayan untuk menambah suasana Islami di rumah anda. Berikut beberapa nasyid dari saya yang saya rekam sendiri dengan menggunakan cool edit pro untuk merekam dan menyatukan beberapa suara (suara saya sendiri).
- Islam agamaku <unduh di sini>
- Pemuda generasi bangsa <unduh di sini>

Yang satu ini bukan lagu Islami, tapi cukup menggugah kesadaran tentang arti sebuah kesederhanaan. Aslinya lagunya koes plus, tapi versi saya. <unduh di sini>

Selamat menikmati

Wednesday, October 8, 2008

Mengajar adalah Sebuah Pengabdian

Fiuh, akhirnya kelakon nonton laskar pelangi (dan... pssst... akhirnya kelakon nonton bioskop betulan... selama ini cuma nonton bioskop Trans TV. Hehe). Semalam kami nonton bareng ibu-ibu dari PP Aisyiyah dan beberapa teman dari Muhammadiyah (semalam sebagian besar penontonnya pengurus-pengurus Muhammadiyah). Mereka menyempatkan untuk nonton bareng karena film ini sangat lekat dengan kehidupan dalam salah satu amal usaha muhammadiyah.

Banyak kesan yang didapat dari cerita nyata ini. Salah satu yang paling berkesan menurut saya adalah ketika pak Harfan, kepala sekolah SD Muhammadiyah itu, berkata kepada Bu Muslimah kira-kira seperti ini: "Mus, maaf, gajimu dan Bakri tertunda dua bulan". Kemudian Bu Muslimah menjawab: "Tidak apa-apa, Pak. Saya sudah dapat duit dari menjahit".

Bagi saya, adegan sederhana itu begitu dalam rasanya. Sebuah pengabdian dari seorang guru baru yang masih muda, yang berkali-kali ditawari untuk menjadi guru di SD PN Timah yang lebih menjamin kehidupannya tapi selalu ditolaknya, dan lebih memilih mengabdi di SD Muhammadiyah dengan murid hanya satu angkatan, itupun hanya 10 orang, dengan gaji yang kurang dan sering terlambat, dengan ruangan kantor dan kelas yang sangat tidak layak, dengan fasilitas yang sangat kurang.

Menurut saya, adegan sederhana itu menunjukkan pengabdian yang tulus oleh guru-guru itu. Dengan sekuat tenaga mereka mempertahankan sekolah itu karena hanya itulah satu-satunya sekolah Islam di Belitung, hanya itulah satu-satunya sekolah yang tidak mengukur segala sesuatu dengan materi, tapi dengan hati. Adegan sederhana itu menunjukkan begitu kuatnya semangat guru-guru itu untuk mengabdi, yang menganggap bahwa mengajar bukanlah sebuah media untuk mencari duit dan kehidupan, akan tetapi mengajar adalah sebuah pengabdian tulus untuk membangun dan mendidik manusia yang akan mengenal Tuhannya, dan mengenal kehidupan ini dengan sebaik-baiknya.

Luar biasa. Mengajar adalah sebuah pengabdian. Pengabdian itu akan terasa pengabdian ketika kita tidak menggantungkan hidup pada mengajar. Jadi ingat kepada keempat imam besar (Abu Hanifah, Syafi'i, Malik, Hambal) dan juga beberapa teman-teman saya. Mereka mengajar, akan tetapi mereka menggantungkan hidupnya dari berdagang, tapi dari berjualan kain, roti dan jualan yang lain.

Memang ini adalah satu hal yang cukup berat. Memahamkan diri kita sebagai pengajar untuk tidak melihat apresiasi hanya dari uang yang didapat memang tidak gampang, karena mengajar adalah sebuah aktivitas yang juga tidak gampang dan ringan. Perlu waktu banyak untuk menyiapkan materi, perlu tenaga dan ketlatenan untuk mengajari, perlu waktu dan tenaga untuk mengevaluasi, dan lain-lain. Akan tetapi, ketika disadari bahwa kita menyampaikan sesuatu yang ketika bermanfaat, maka pahalanya akan mengalir sampai kita meninggal, maka kita akan dengan mudah memahaminya.

Tidak irikah kita melihat ketulusan Bu Muslimah dan Pak Harfan?
Tidak irikah kita melihat semangat mereka?
Tidak malukah kita yang sudah diberi fasilitas yang banyak, tapi kalah dengan ketekunan dan ketlatenan mereka?

Akhirnya, saya mengajak pada diri saya sendiri dan juga bagi para pengajar yang berkenan membaca tulisan ini, mari kita berusaha menjadi pengajar yang benar-benar pengajar, dengan menanamkan pada diri kita bahwa mengajar adalah sebuah pengabdian. Dan dia akan benar-benar terasa sebagai sebuah pengabdian ketika kita tidak menggantungkan hidup kita pada mengajar. Seorang kolega pernah mengatakan: pengabdian tidak harus pengab. Ini betul, akan tetapi mari coba dipahami bahwa uang yang didapat dari mengajar ini hanyalah sebuah penghargaan, apresiasi, dari kampus atau di manapun tempat mengajar kita, dan bukan satu-satunya sumber kehidupan kita. Cobalah untuk merintis usaha-usaha lain yang membuat kita bisa menggantungkan hidup padanya, sehingga akan sangat kuat tertanam dalam diri kita, bahwa MENGAJAR ADALAH SEBUAH PENGABDIAN.

Tuesday, October 7, 2008

Orang pintar pasti akan selalu memperbaiki shalatnya

Ketika pemerintah memutuskan bahwa nilai Ujian Nasional hanya diambil dari 3 mata pelajaran, yaitu Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris, maka serentak orang-orang tua dari anak-anak bimbingan les saya dulu meminta untuk memfokuskan pada ketiga pelajaran tersebut. Seolah-olah mereka berkata: "Mas, sementara sekarang tidak usah belajar IPS, IPA, dan tetek mbengeknya itu, sekarang yang penting adalah tiga pelajaran itu" (jadi inget sama iklannya LA Light: Kalau yang nggak penting itu penting, maka yang penting itu nggak penting... :D)

Sementara itu, di mata pemerintah yang menetapkan kebijakan itu, mereka memahami bahwa semua pelajaran akan baik kalau ketiga pelajaran itu baik.

Nampaknya hal ini hampir sama dengan apa yang pernah disampaikan Rasulullah SAW terkait masalah shalat: "Yang paling awal dihitung dari seorang hamba adalah shalatnya. Apabila baik shalatnya, maka semua amal yang lain dianggap baik. Apabila tidak baik shalatnya, maka semua amal yang lain dianggap tidak baik.

Ustadz Suprapto Ibnu Juraimi mengatakan: "Orang yang tahu hadis itu, maka hal yang paling awal dia lakukan untuk memperbaiki dirinya adalah memperbaiki shalatnya. Dengan memperbaiki shalat, maka akan selamat semua perbuatannya, sehingga insya Allah dia akan selamat di dunia dan akhirat". Dengan kata lain, bahwa perbaikan diri dalam hal apapun akan bisa dimulai dari memperbaiki shalat kita. Hadis rasulullah itu secara implisit merupakan sebuah jaminan, bahwa orang yang shalatnya baik pasti akan mempunyai perbuatan-perbuatan yang baik, bisa dipercaya, dan sebagainya. Orang yang shalatnya tidak baik, maka tidak ada jaminan padanya akan baiknya perbuatan-perbuatannya. Hal ini memang selaras dengan firman Allah SWT: "Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar".

Jadi, mulailah belajar bagaimana shalat yang baik. Perbaiki rukun-rukunnya, perbagus dan perlama bacaannya, perpanjang tumakninahnya, dan belajarlah merasakan kehadiran Allah dalam shalat kita (seperti yang pernah dikatakan Rasulullah: "Kalau seseorang itu tahu siapa yang dia temui dalam shalatnya, maka dia tidak akan pernah mau menghentikan shalatnya"). 

Saat ini banyak sumber untuk belajar shalat yang benar, bisa dari buku, atau bahkan dari internet. Di youtube, saya menemukan banyak sekali video panduan shalat yang bagus. Salah satunya adalah dari ustadz suprapto ibnu juraim sendiri. Silahkan di youtube dicari dengan kata kunci "panduan shalat" atau langsung "ibnu juraim"

uii.ac.id kok ikutan "libur"?

Berawal dari chattingan dengan mahasiswa beberapa hari yang lalu yang menanyakan: "Pak, kok www.uii.ac.id kok ndak bisa diakses, ya? Saya mau donlot tugas. Bilangnya kok domain expired?". Saya pikir: "Lho, yang libur kan cuma karyawan-karyawannya to? Kok domainnya juga ikutan libur?".

Ternyata, hari ini saya akses sudah tidak "libur" lagi, alias sudah bisa diakses lagi. Besok lagi, dosen karyawan boleh lah libur, tapi mbok ya domain tidak usah libur... Hehehe

Saturday, October 4, 2008

Everyone is special

Ketika Ramadhan berakhir, di desa saya tidak terlihat sama sekali rona sedih ditinggal oleh bulan yang penuh berkah (padahal ketika kita sadar akan pahala di bulan itu, kita seharusnya sedih kan?). Semua orang bergembira dengan caranya sendiri-sendiri. Semua kegemberiaan seolah jadi satu ketika takbiran berlangsung.

Akan tetapi, kegembiraan itu segera berganti menjadi menakutkan ketika para pemuda dari desa saya (Krakalan, Bintaran Kulon), tidak terima dengan keputusan panitia yang tidak menjadikan rombongan mushola Krakalan sebagai juara dalam lomba takbiran. Mereka merasa bahwa mereka sudah berusaha sangat maksimal dengan membuat maskot takbiran yang bagus (dan memang sangat bagus - mereka membuat tank dari gabus yang sangat mirip dengan aslinya) yang dibuat dalam dua hari dua malam tanpa tidur.

Ketika pengumuman, mereka langsung menghancurkan maskot yang dibuat, dan kemudian sepanjang perjalanan pulang mereka menyebarkan gabus-gabus sisa-sisa maskot itu di tengah jalan.

Cerita ini semakin seru karena dua orang jurinya adalah dari keluarga kami, yaitu istri saya dan adik saya (sebenarnya kami sudah protes, tapi panitia bersikeras tidak mau menggantinya dengan alasan keputusan rapat). Dalam penilaian istri saya, sebenarnya rombongan mushola Krakalan berada di posisi 2, tapi karena dalam penilaian panitia, tidak hanya hasil takbiran yang diperhitungkan, tapi dari hasil CCA yang diadakan pas istirahat (dan kebetulan anak-anak TPA mushola Krakalan tu dieeeeem aja pas CCA), maka ya akhirnya tidak jadi masuk dalam 3 besar.

Cerita kali ini jauh semakin seru, karena dua malam berturut-turut setelahnya, rumah kami dilempari mercon sampai lebih dari sepuluh kali.

Dari pengalaman ini, saya kemudian merenung.

Bukankah setiap rombongan yang ada punya kelebihan sendiri-sendiri? Istilahnya "everyone is special". Ada yang menonjol dalam kekompakannya, ada yang menonjol dalam maskotnya, ada yang menonjol dalam kostumnya, ada yang menonjol dalam semangatnya, dan lain-lain. Kenapa tidak dihargai dengan kelebihan masing-masing itu? Bukankah akan lebih baik jika tidak dibuat juara 1 sampai 3, akan tetapi dibuat favorit maskot, favorit kompak, dan sebagainya...???

Ketika kita berpikir, bahwa "EVERYONE IS SPECIAL", maka kita bisa menghargai mereka apa adanya. Kita bisa melihat sisi positif dari seseorang, sehingga masing-masing orang juga akan merasa dihargai apa adanya.