Friday, January 17, 2014

Android studio in ubuntu - problem: 'tools.jar' seems to be not in Android Studio classpath. Please ensure JAVA_HOME points to JDK rather than JRE.

I love coding, especially Java. Because Android apps is written in Java, I would love to make one as well. Unfortunately, when I tried to install Android Studio on my Ubuntu yesterday, I got this error message:
'tools.jar' seems to be not in Android Studio classpath.
Please ensure JAVA_HOME points to JDK rather than JRE.
When I google on this error, there are so many websites and forums discuss about this error as well as the solutions. However, in linux (or ubuntu in my case), sometime we have different environment so that the solution will not always work (sometimes we have to do another thing before or after that solution). And this also happen in this case.

Here are what I did then:
1. Know what exactly the problem is: the problem is that the JAVA_HOME in my system did not point to JDK. Instead, it points to a JRE. JRE can only be used to run java applications, not to build them.
2. Check the java path used by the system. In terminal, I typed the following:
$ java -version
In my system, the output was
java version "1.6.0_26"
Java(TM) SE Runtime Environment (build 1.6.0_26-b03)
Java HotSpot(TM) 64-Bit Server VM (build 20.1-b02, mixed mode)

Hmm... still don't know exactly what was the problem. So I continue with this one in terminal:

$ update-alternatives --config java
In my ubuntu, the output will be

Selection    Path                                      Priority   Status
------------------------------------------------------------
  0            /usr/lib/jvm/java-6-openjdk/jre/bin/java   1061      auto mode
  1            /usr/lib/jvm/java-6-openjdk/jre/bin/java   1061      manual mode
*  2            /usr/lib/jvm/java-6-sun/jre/bin/java       63        manual mode
  3            /usr/lib/jvm/java-7-openjdk/jre/bin/java   1051      manual mode
Press enter to keep the current choice[*], or type selection number: 
3. Voila, according to some people out there, I have to use java-7-openjdk. So I have to change the selection into 3. OK... now type 3 and enter. But, wait... here's what I got.
update-alternatives: using /usr/lib/jvm/java-6-sun/jre/bin/java to provide /usr/bin/java (java) in manual mode.
update-alternatives: error: unable to make /etc/alternatives/java.dpkg-tmp a symlink to /usr/lib/jvm/java-6-sun/jre/bin/java: Permission denied

4. Aaaa... permission denied. So, I just have to put 'sudo' before the command:
$ sudo update-alternatives --config java
5. That's it... now I can choose number 3, and when I do this command:
$ java -version
The output has now changed
java version "1.7.0_21"
OpenJDK Runtime Environment (IcedTea 2.3.9) (7u21-2.3.9-0ubuntu0.11.10.1)
OpenJDK 64-Bit Server VM (build 23.7-b01, mixed mode)
6. In my android studio folder, I go to /bin folder and now I can call the studio.sh in terminal.
$ ./studio.sh
7. Voila... after several steps, my first android project has now been created


Hope this post will help you as well. :D

Sunday, December 29, 2013

Beberapa poin-poin penting berkait Adab-adab menuntut Ilmu

Dalam belajar atau menuntut ilmu, pengetahuan yang tidak kalah pentingnya dengan ilmu yang akan dipelajari adalah pengetahuan tentang adab menuntut ilmu. Pengetahuan tentang adab-adab mencari ilmu ini penting tidak hanya untuk menuntut ilmu syar'i, tapi juga semua jenis ilmu karena (http://abufawaz.wordpress.com/2013/08/29/urgensi-dan-faedah-mempelajari-adab-adab-menuntut-ilmu/):
  1. Dapat membantu dan memudahkan perjalanan seorang hamba dalam menuntut ilmu.
  2. Dapat mengetahui ilmu apa yang harus diprioritaskan.
  3. Mengetahui bagaimana beraklhaq mulia terhadap guru, teman, orang tua, keluarga, dan orang lain
  4. Membuat ilmunya lebih bermanfaat dan barokah
  5. Menghiasi dirinya dengan sifat mulia seperti amanah, jujur, kasih sayang, dan lain-lain.
  6. Mengetahui bahwa lautan ilmu begitu luas, sehingga menghindarkan diri dari sombong, bangga diri, pamer, dan lain-lain.
Berikut beberapa poin yang saya kutipkan dari kitab "Adab Thalabul 'Ilmi" yang saya dapatkan dari islamhouse.com. Buku kecil ini disusun oleh Majid bin Su'ud al-Usyan, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Muzafar Sahidu bin Mahsun Lc dengan editor Eko Haryanto Abu Ziyad.
  1. Ikhlash semata karena Allah ta'ala. Ikhlash dalam terminologi Islam tidak sama dengan iklas yang kita kenal dalam bahasa Jawa. Iklas dalam bahasa jawa sering kita artikan sebagai rela, tidak merasa berat, dan arti semacamnya. Ikhlas dalam agama kadang justru malah terasa tidak rela, terasa berat. Tapi meski terasa berat, sebuah amal tetap dianggap ikhlas ketika amal itu ditujukan hanya kepada Allah ta'ala.
  2. Bersemangat dalam menuntut ilmu. Dalam ilmu pendidikan, kita sering berbicara tentang pentingnya motivasi belajar. Motivasi belajar ini hendaklah tidak bergantung pada lingkungan (misal bagaimana cara dosen mengajar atau apakah fasilitas di kampus cukup atau tidak), tapi motivasi ini hendaknya ditumbuhkan dari diri sendiri. Jika seseorang bersemangat menuntut ilmu, maka keterbatasan seperti apapun tidak akan menghambat majunya seseorang, justru akan jadi tantangan dan cambuk untuk bisa lebih baik.
  3. Jika terlambat dalam sebuah majelis ilmu, hendaklah tidak mengucap salam karena akan mengganggu. 
  4. Mengamalkan ilmu yang didapatkan. Sekecil apapun ilmu yang didapatkan, maka hendaklah kita berusaha mengamalkan ilmu kita. Tidak mengamalkan ilmu akan menghilangkan barakah dari ilmu tersebut. Hal ini berdasarkan firman Allah dalam QS As-Shaf: 2-3, yang artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan". Hal ini juga dikerjakan oleh Imam Ahmad. Beliau sudah mengamalkan hadis sebelum beliau menuliskannya.
  5. Membawa buku dan menulis bagian-bagian penting dalam pelajaran yang didapatnya kemudian memperhatikan dan selalu membaca ulang bacaan penting tersebut. Hal yang penting dicatat adalah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh penuntut ilmu yang lain berikut jawaban dari guru.
  6. Tidak memotong pembicaraan seorang guru sampai beliau selesai menerangkan. Berkata Ibnu Jauzi: "Jika pada saat belajar, seorang penuntut ilmu tidak paham suatu pelajaran, hendaklah dia bersabar sampai gurunya tersebut berhenti berbicara, lalu barulah bertanya dengan adab yang baik dan cara yang lembut". Adab yang baik dalam bertanya maksudnya tidak menanyakan sesuatu yang dibuat-buat atau mengajukan pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya hanya untuk menguji guru atau bahkan menyingkapkan kelemahan gurunya.
  7. Mempunyai prioritas dalam menuntut ilmu, memulai dari hal-hal yang penting terlebih dahulu.
  8. Tidak merasa sombong atau merasa sudah pandai. Termasuk di dalamnya tidak menjawab kecuali dengan ilmu dan tidak sungkan mengatakan tidak tahu untuk sesuatu yang tidak diyakini jawbannya.
  9. Teliti dalam mengambil perkataan orang lain. Tidak menyebutkan referensi melainkan setelah membaca langsung referensi tersebut.
  10. Bersemangat untuk mencari ilmu yang baru, salah satunya dengan sering mengunjungi toko buku atau internet.
  11. Tidak menyibukkan diri dengan kegiatan yang sifatnya sia-sia.
Catatan kecil:
Begitu banyak poin-poin penting di dalam kitab kecil tersebut tentang adab-adab menuntut ilmu, tapi di sini saya tuliskan beberapa saja yang saya anggap lebih prioritas daripada yang lain (bukan berarti yang lain tidak penting). Poin-poin tersebut saya coba jelaskan dan beberapa saya rangkum jadi satu poin dengan bahasa saya sendiri yang saya berusaha pahami dengan mencari web-web lain yang terpercaya. Semoga tidak ada pemahaman saya yang salah. Jika ada yang salah, mohon dikoreksi.

Postingan ini saya maksudkan untuk menasehati diri sendiri. Jika memang ada bagian yang bisa diambil manfaatnya oleh pembaca, maka saya mengucapkan Alhamdulillahi rabbil 'aalamiin. Jika pembaca merasa mendapatkan manfaat darinya maka mohon berkenan untuk menyebarluaskan ilmunya. Saya berdo'a semoga penulis dan pembaca sama-sama menjadi orang yang senang mencari ilmu dan selalu taat pada adab-adabnya.

Thursday, December 26, 2013

Distraktor Kesuksesan

SUKSES.... Sebuah kata sedehana yang hanya terdiri dari 6 huruf, tapi membuat hampir semua orang melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkannya. Merriam-Webster dictionary mendefinisikan enam huruf ini sebagai (1) the fact of getting or achieving wealth, respect, or fame, atau (2) the correct or desired result of an attempt, atau (3) someone or something that is successful.

Yang menarik adalah bahwa setiap orang di dunia ini ingin sukses, tapi tidak semua orang sepakat dengan definisi tersebut, setiap orang akan punya definisi sukses masing-masing. Ada orang yang mendefinisikan sukses ketika senantiasa mendapatkan juara atau penghargaan di manapun posisi dia. Ada juga orang yang mendefinisikan sukses adalah ketika bisa mendapatkan uang cukup dan bisa punya banyak waktu bersama keluarga. Orang lain mungkin akan mendefiniskan berbeda dari dua definisi tadi. Barangkali ketika pertanyaan tentang definisi sukses ini ditanyakan kepada 10 kepala, maka akan ada 10 definisi kesuksesan.

Dalam istilah organisasi, definisi kesuksesan ini adalah sebuah visi setiap individu. Visi ini tertanam dan akan mewarnai setiap langkah-langkah dan pilihan hidupnya.

Pertanyaan selanjutnya adalah: apakah setiap orang mencapai kesuksesan yang mereka idamkan?

Jawabannya adalah TIDAK. Tidak semua orang mencapai kesuksesan yang mereka idamkan. Banyak orang yang tidak mencapai sukses dalam hidupnya karena dia justru sibuk dengan distraktor-distraktor yang mengganggu langkahnya menuju kesuksesan. Distraktor yang dimaksud di sini adalah apapun yang bisa membuat perhatian seseorang teralihkan dari apa yang seharusnya paling harus dia lakukan. Misalnya seorang yang mengerjakan tesis, kemudian membuka internet untuk mencari bahan tesisnya, tapi kemudian membuka satu tab facebook atau plurk atau twitter, tapi justru malah asyik dengan facebook dan kawan-kawannya. Dalam kasus ini, hal utama yang harus dia lakukan adalah menyelesaikan tesisnya, sedangkan facebook dan kawan-kawannya adalah distraktor-distraktor.

Celakanya, saat ini banyak sarana yang potensial jadi distraktor seseorang untuk menggapai suksesnya dan orang cenderung tidak menganggap itu sebagai distraktor. Contoh yang paling umum dimiliki adalah handphone. HP ini bisa mengganggu dan mendistraksi seseorang ketika seseorang sedang sibuk dan konsentrasi bekerja. Dan sialnya, ketika distraksi itu datang, jarang yang menyadari itu sebagai distraksi dan dalam beberapa saat setelah distraksi itu terinisiasi, seseorang justru tenggelam di dalamnya. Awalnya cuma mendapatkan whatsapp dari seorang kawan berisi lelucon, tapi kemudian terbersit ide untuk mengkopi lelucon itu dan membroadcastnya ke grup whatsapp yg diikutinya, dan juga membuka facebook dan twitter dan memasang lelucon itu di statusnya. Seketika kemudian banyak orang menanggapi lelucon tersebut dan akhirnya dia benar-benar tenggelam dalam distraktor tersebut. Sibuk menanggapi komentar di whatsapp dan facebook.

Orang yang ingin sukses adalah orang yang bisa fokus pada tujuan penting hidupnya, karena fokus bisa membuat sesuatu yang susah jadi mudah, yang tidak mungkin akan jadi lebih mungkin, dan lebih mungkin jadi mungkin. Orang yang sukses bukan hanya orang yang tahu WHEN TO START, tapi juga tahu WHEN TO STOP. Dia tahu kapan harus memulai mengerjakan sesuatu, dan dia tahu kapan harus berhenti dari sesuatu. Untuk mendapatkan kesuksesan, seseorang harusnya bisa merancang to-do, doing, dan done works-nya (termasuk deadline-nya), sehingga dia bisa memprioritaskan pekerjaan-pekerjaan penting yang seharusnya dia lakukan. Dengan mencatat to-do, doing, dan done, maka dia bisa merancang dan mengatur hidupnya, termasuk salah satunya adalah apa yang harus dia lakukan ketika distraktor itu datang. Boleh saja dia menanggapi sebentar distraktor yang datang kepadanya, tapi ketika memang masih banyak to-do dan doing-nya, maka dia harus mampu berkata STOP agar semakin banyak hal yang berpindah dari doing ke done...

Semoga bermanfaat, terutama bagi diri saya sendiri.... Aamiin....