Saturday, April 24, 2010

Lagu anak

Dari tadi pagi, radio di rumah saya saya pasang untuk mendengakan radio rama fm. Kalau tidak salah, sejak sekitar jam 8 tadi, acaranya adalah dunia anak. Isinya adalah tips tips untuk anak-anak, doa sehari-hari, lagu anak, dan lain-lain. Saya pengen anak saya, Dzaki, terbiasa dengan hal-hal yang islami dan yang sesuai usianya.

Akhir-akhir ini, posisi radio sudah begitu tergeser oleh televisi. Bahkan di rumah saya sendiri, hanya saya yang betah mlanjer radio. Saya mengira di rumah-rumah lain pasti tidak jauh berbeda. Saya berani mengatakan hampir seratus persen yakin bahwa sekarang televisi menjadi bagian penting (jika tidak ingin dikatakan terpenting) dari hidup masyarakat.

Oleh karena itu, tidak salah jika gaya hidup mereka kini sangat dipengaruhi oleh apa yang disajikan televisi. Mulai dari gaya berbicara, berpakaian, sampai konsumsi mereka.

Yang paling menyedihkan adalah anak-anak. Mau tidak mau, terpaan pengaruh televisi pun pasti akan mereka terima. Hal yang baru rame ramenya di desa saya adalah facebook di kalangan anak2 SD (padahal kan belum boleh? Usia minimal pengguna facebook adalah 13 tahun). Mereka terdorong untuk menggunakan facebook ternyata karena di televisi sering ada iklan atau berita tentang facebook. Mereka kemudian ke warnet hanya untuk facebookan. Karena di warnet yang tertutup dan tidak didampingi, tidak jarang yang kemudian terjerumus untuk melihat pornografi. Bahkan hanya agar bisa facebookan, ada yang sampai mencuri. Sungguh efek domino yang luar biasa.

Selain itu, nyanyian anak-anak pun bukan lagi sesuai dengan usia mereka. Kenapa? Lagi-lagi televisi memegang supremasinya. Televisi sekarang hanya menayangkan lagu-lagu dewasa. Alhasil, anak-anak sekarang HANYA tahu lagu2nya Peter Pan, Ungu, D'Masiv, dan lain-lain.

Menyadari hal ini, saya merasa sangat beruntung. Di jaman saya, tayangan televisi belumlah sedemikian bebas, pakaian yang muncul di televisi masih sopan-sopan. Di samping itu, masih banyak lagu anak-anak yang menemani rengeng-rengeng kita. Ada bondan prakoso dengan si lumba-lumba, ada enno lerian dengan semut-semut kecil, ada si susan dan kak ria enes dengan semut dan kodok, dan lain-lain.

Ketika generasi sekarang memasrahkan hidup mereka pada televisi, ah, sungguh kasihan....

Sayang, haruskah televisi di rumah kita kita jual?

Wednesday, April 21, 2010

Pelegalan judi

Ketika nonton tv one semalam, ada satu diskusi yang terus terang membuat saya agak gerah, yaitu tentang pelegalan judi.

Logika yang dipakai oleh narasumber adalah bahwa kita tidak usah munafik. Kita melarang prostitusi, tapi nyatanya prostitusi juga tetap ada. Kita melarang merokok, tapi nyatanya merokok juga tetap jalan. Karena tetap ada walau dilarang, menurut beliau, harusnya tetap saja diperbolehkan, tapi dilokalisasi. Logika tersebut kemudian juga diterapkan untuk judi.

Secara sosiologis, itu memang benar. Tapi, secara logika orang beragama, itu tidak bisa dibenarkan. Bahkan kalau memang mau konsisten, bahkan orang awam pun pasti akan sepakat bahwa semua tatanan akan rusak oleh logika itu. Kalau pakai logika itu, maka orang mencuri harusnya juga diperbolehkan. Toh walau dilarang tetap ada. Selain itu, orang memperkosa juga diperbolehkan. Toh walau dilarang tetap ada. Intinya, mencuri, membunuh, memperkosa, menipu, korupsi, semua harus dilegalkan, karena walau dilarang itu tetap ada. Itu kalau digunakan logika sosiologis. Mau?

Okelah, itulah fakta masyarakat. Di manapun dan kapanpun selalu ada dua sisi yang muncul berpasangan. Ada atas, pasti ada bawah. Ada orang baik, pasti ada orang jahat.

Kejahatan seseorang adalah untuk dicegah, bukan malah DIFASILITASI. Dalam lingkungan di mana ada orang baik dan jahat, maka si baiklah yang boleh mendominasi (jika ingin masyarakatnya baik). Segala kebaikan harus dimudahkan dan difasilitasi. Bukankah salah satu kewajiban pemimpin itu adalah mempermudah yang dipimpinnya untuk berbuat kebaikan?

Dalam masyarakat yang ingin baik, sekali lagi memang mungkin di sana ada orang yang jahat. Tapi biarlah orang jahat merasa tidak nyaman dengan kejahatannya. Biarlah orang jahat merasa risih, karena berada di lingkungan yang baik.

Entah bangsa ini ingin jadi masyarakat baik atau tidak. Kalau memang lokalisasi dan legalisasi kejahatan itu selalu ada, maka itu berarti pemimpin bangsa ini ingin melestarikan kejahatan. Dia ingin menutup kemungkinan orang jahat untuk menjadi baik, karena ada lingkungan sekitarnya yang sama-sama jahat, dan karena dia tidak berada di tengah orang-orang yang baik. Atau barangkali pemimpin bangsa ini yang ingin mempunyai tempat yang pasti dan mudah dicari untuk melakukan kejahatan yang selama ini dia pendam dan sembunyikan. Entah....