Friday, September 21, 2007

Yang Paling Lucu yang Menang

Pada Bulan Ramadhan ini, semua pihak ingin ikut serta dalam memeriahkannya. Salah satu pihak yang bersikeras untuk ikut memeriahkan (dan meraup untung sebanyak-banyaknya) dari ramadhan ini adalah media. Seperti kita lihat, pada bulan ramadhan ini media berlomba-lomba untuk menampilkan acara yang paling menarik bagi pemirsa, sehingga stasiun tv mereka yang dipilih. Logika media adalah: semakin menarik acara, semakin banyak yang nonton. Ketika semakin banyak orang nonton, maka semakin banyak yang ingin beriklan. Semakin banyak yang beriklan, maka duit yang diraup semakin banyak.

Salah satu fenomena yang saya lihat dalam upaya meraih perhatian pemirsa ini adalah dengan lomba lucu. Lihat saja, ketika sahur, bukannya suasana hikmat yang dimunculkan, tapi perlombaan lucu-lucuan antar stasiun tivi. Yang muncul di tivi justru bukan orang-orang yang bisa memberikan bekal hikmah untuk seharian nanti, tapi justru orang-orang yang bisa melucu, seperti Komeng, Tesi, Tukul, dan lain-lain.

Tidak semua stasiun tivi seperti itu. Ada dua stasiun tivi yang saya sangat salut karena tidak terpengaruh dengan jor-joran perlombaan lucu-lucuan itu. Dua stasiun tivi itu adalah TVRI dan Metro TV. Keduanya menampilkan acara penuh hikmah bersama ustadz/ustadzah yang membahas permasalahan-permasalahan kehidupan.

Nampaknya, stasiun-stasiun TV itu sudah banyak yang mulai kehilangan arah dalam program-programnya, sehingga yang mereka lakukan hanyalah mengikut trend yang ada. Ketika acara masaknya pak bondan digemari, tiba-tiba di TV lain muncul acara serupa. Ketika si entong digemari anak-anak, tiba-tiba di RCTI juga muncul si eneng dengan konsep hampir sama. Ketika sinetron mulai digemari dulu, tiba-tiba di semua stasiun TV juga menampilkan sinetron. Nha, di bulan ramadhan ini ketika ramadhan kemarin acara yang lucu di beberapa TV swasta banyak digemari, ramadhan kali ini konsep itu dipakai di semua TV swasta kecuali Metro.

Ealah… gimana toooo televisi kita???

Thursday, September 13, 2007

Untuk yang sekarang kuanggap sebagai adikku

Aku tidak tahu, apakah kau membaca tulisan ini atau tidak. Yang aku tahu saat ini, bahwa seribu maafku pun tidak akan mampu menghapus gores lukamu. Tapi, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku.

Percayalah, bahwa apa yang dulu pernah kita katakan sebagai cinta, saat ini masih kusebut ia sebagai sesuatu yang sama, walau maknanya sekarang harus berbeda. Adikku, percayalah, bahwa selalu ada yang terbaik dalam skenario yang Allah tetapkan. Dan Dia akan memberikan yang terbaik di saat terbaik.

Monday, September 3, 2007

Kurasa aku jatuh cinta lagi

Sejak semalam, aku merenungkan tentang pekerjaanku di UII yang sudah delapan bulan. Delapan bulan terasa begitu cepat, aku berpikir apakah karena memang tidak kurasakan atau karena aku menikmati pekerjaanku di sini sebagai dosen.

Setelah kupikir pikir, rasanya itu memang karena aku menikmati pekerjaanku sebagai dosen. Rasanya aku jatuh cinta pada pekerjaan ini. Rasanya senang sekali bisa belajar dan mengajari ilmu yang dipelajari itu.

Rasanya, indah sekali ketika bisa membuat mahasiswa tahu dan paham akan suatu ilmu. Senang sekali rasanya ketika setelah ikut kuliahku mahasiswa mendapatkan ide dari apa yang dipelajari di kelas. Senang sekali ketika mahasiswa bisa mengerti dan bisa mengerjakan semua yang aku ujikan. Senang sekali ketika di form yang kuajukan ke bagian nilai, ada beberapa mahasiswa yang nilainya 100. Aduh, senangnya….

Kurasa, aku jatuh cinta lagi, jatuh cinta dengan pekerjaanku sebagai dosen.