Thursday, February 28, 2008

Nggak taktis banget sih....????

Lama ndak lihat berita TV, tadi pagi iseng-iseng lihat berita. Ternyata, yang jadi topik masih sama seperti dulu: kecelakaan, kriminal, kasus korupsi, penggusuran, dan berita-berita lain yang sama sekali tidak menggembirakan. Sebal sekali, masak pagi-pagi dah disuguhi berita tidak menyenangkan seperti itu. Padahal kalau kita lihat misalnya di antara (www.antara.co.id), beritanya banyak yang menggembirakan dan bikin semangat. Misalnya: berita hari ini tentang Wiranto ajak wujudkan NKRI berdaulat dengan mengatasi kemiskinan, berita tentang pemasangan 26 radar di 6 selat oleh Indonesia, yaitu Selat Sunda, Lombok, dan Malaka, dan berita-berita lain yang membuat kita jadi semangat, senang, dan semakin bangga dengan Indonesia. Ngeliat di detikinet juga banyak berita-berita teknologi yang bikin pikiran kita jadi melek. Tapi, kok ya kriminal, kecelakaan, bencana alam yang selalu disoroti. Kenapa sih???? Tanyaken apa?

Pindah-pindah channel, akhirnya menemukan yang agak berbobot, yaitu liputan 6: wawancara. Topik wawancaranya adalah
tentang listrik. Yang diwawancara adalah Kepala Pemasaran PLN dan satu orang lagi ndak tau siapa (maklum, telat ngeliatnya). Pada sesi interaksi, ada banyak keluhan dari masyarakat terkait pemadaman bergilir yang akhir-akhir ini sering sekali dilakukan oleh PLN.

Jawaban yang aneh muncul dari PLN: "Hal itu disebabkan karena supply dan demand yang tidak seimbang. Oleh karena itu, maka kami menghimbau masyarakat untuk berhemat".

Segera hal itu memicu diskusi yang cukup menarik antara saya dan istri saya. Kesimpulannya, jawaban itu memang aneh, karena seharusnya yang salah tu PLN, bukan masyarakat. Jawaban itu seolah-olah mengatakan, "Pemadaman itu karena salah masyarakat sendiri, yang menggunakan listrik banyak. Jangan salahkan kami dong...".

Hal itu sama sekali ndak logis. Secara logika, setiap saat permintaan akan listrik pasti bertambah. Misalnya: sekarang saya punya TV, beberapa waktu yang akan datang, mungkin saya akan beli sanyo (sebutan khusus orang jawa untuk "pompa air"), kalau punya duit lagi akan punya kulkas, mesin cuci, dan lain-lain. Artinya bahwa pertambahan permintaan akan daya listrik tu setiap saat akan naik, dan itu adalah sebuah keniscayaan.

Tapi, kenapa PLN menyalahkan masyarakat??? Aneh...

Seharusnya, daripada PLN menyalahkan masyarakat dengan meminta mereka berhemat, dengan melalui acara-acara TV, dengan iklan di sana sini, dengan meminta beberapa artis menjadi duta hemat energi, dan lain-lain, bukankah lebih baik jika duit yang digunakan untuk iklan dan tetek bengeknya itu digunakan untuk membeli tanah kemudian mendirikan pembangkit listrik yang baru??? Selesai masalah, kan...????

Aneh....

3 comments:

nenyzulaiha said...

bismillah, sedikit memberi komentar bwt mas arwan, pak dosen. Betul Banget Pak! begini pak, hari ini saya ikut diklat Anti Korupsi,disana dijelaskan macam-macam hal ikhwal terkait dengan korupsi serta model-modelnya juga. Nah, kenapa saya kaitkan dengan korupsi pak? karena menurut saya sunggguh korupsi itu merupakan perbuatan terkutuk yang menyebabkan apa yang seharusnya tersalurkan untuk kemaslahatan rakyat eee.... malah masuk perut si koruptor sialan itu. Nggak adil banget kan pak! Coba pak, kita bayangkan ya Pak, bukannya PLN itu perusahaan negara yang diberikan monopoli di Indonesia, jadi ngak ada saingannya gito loh.. Bayangkan lagi ya pak, berapa coba pemasukan PLN tiap bulan yang tentunya juga dari uang rakyat. Kok bisa-bisanya sampai mengatakan defisit persediaan listrik. Menurut saya uang dari rakyat itu mestinya dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mencukupi kebutuhan listrik. Kalau hal demikian tidak bisa diusahakan oleh PLN dengan alasan defisit energi listrik maka itu sangat tidak masuk akal, seperti kata bapak masak malah disuruh "berhemat" bukannya buat pembangkit listrik baru yanga lebih joss gitu ya pak? Kemana larinya uang yang super banyak itu kalau tidak di korupsi, dan agaknya managemen di PLN wes kadaluawarsa wes tuwa sehingga memudahkan praktek korupsi di PLN merajalela karena indikasinya sudah kelihatan.

Syafrudin said...

Assalamu'alaikum.

Meskipun secara umum saya setuju dengan yang lain, khusus untuk PLN, tapi tanpa bermaksud membela PLN, menurut saya tanggapan mas arwan kurang bijak.
1. Perbandingan biaya iklan layanan masyarakat (yang lebih murah daripada iklan komersial) dengan biaya membangun Pembangkit.
2. Kenyataannya memang masyarakat kita perlu dididik dalam semangat dan cara berhemat. Saya tinggal di kampung bersama warga mayoritas ekonomi bawah. Saya biasa menjumpai tagihan listrik mereka sekitar seratus ribuan, padahal kami yang secara ekonomi Alhamdulillah di atas mereka, hanya ditagih antara sekitar 50 ribu.
3. Jawaban untuk mengatasi ketimpangan supply-demand untuk jangka panjang memang membangun Pembangkit baru, dan yang saya dapat dari berita, sudah dilakukan namun perlu waktu sehingga belum bisa dinikmati sekarang. Terlambat memang karena sepertinya sejak reformasi pembangunan pembangkit baru sempat mandek cukup lama.
Sedang untuk jangka pendek ya mau - tidak mau memang berhemat.

arwan said...

>> Neny >> Benar, harusnya PLN sangat maju karena merupakan satu-satunya perusahaan listrik di Indonesia. Sebagai perusahaan monopoli, PLN harusnya kaya

>> Syarifudin >> Thanks untuk commentnya, membuka wawasan baruu. Akan tetapi, mau tidak mau PLN harus mengantisipasi demand yang terus bertambah. Kalau PLN memang tidak bisa mengantisipasi, ya solusinya kita buat listrik alternatif dan kalau bisa memutuskan hubungan dengan listrik PLN. Misalnya: tenaga angin, tenaga surya, dan lain-lain.