Sunday, November 13, 2011

Sejak kapan mulai mendidik anak?

Ketika berkunjung ke rumah co-supervisor saya, Dr. Ibrahima Faye, ada satu diskusi yang cukup menarik, yaitu tentang sejak kapan mulai mendidik anak. Fenomena "ah, dia kan masih kecil, biarkan saja" ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Orang2 tua di negara beliau pun (Senegal, Afrika) juga banyak yang punya pemahaman seperti itu.

Sebenarnya, sejak kapan kita seharusnya mulai mendidik anak? Apakah ketika sudah dewasa, seperti kebanyakan orang orang? Atau kalau tidak, kapan?

# Pendidikan sejak sebelum menikah #
Dalam Islam, proses pendidikan anak sebenarnya dimulai jauh sebelum si anak diciptakan di dunia ini. Teringat dengan jelas pemaparan Ustadz Suprapto Ibnu Juraimi tentang seorang pemuda yang luar biasa. Pemuda itu adalah orang yang sangat jujur, yang tidak mau memakan yang belum jelas asal muasalnya meskipun hanya sebiji apel yang sudah terhanyutkan oleh sungai. Beliau sangat ingin memakan sebiji apel yang hanyut di sungai itu, tapi tidak mau memakannya sampai mendapat ijin dari yang punya apel. Beliau kemudian rela menyusur sungai untuk mencari pemilik apel itu untuk kemudian memohon ijin pemiliknya. Subhanallah. Pemilik pohon itu melihat pancaran kejujuran dari pemuda itu dan kemudian malah memintanya menikahi anak perempuannya. Dan, tahukah siapa pemuda itu? Dialah pemuda yang mulia, yang darinya lahirlah seorang yang juga mulia, yaitu Imam Syafi'i.

# Pendidikan waktu berjima' #
Ini adalah pintu terjadinya pembuahan sel telur, yang nantinya akan berkembang menjadi bayi. Perlu disadari bahwa tidak dalam setiap jima' terjadi pembuahan sel sperma dan sel telur. Tapi, seseorang tidak tahu pasti kapankah pembuahan ini akan terjadi. Oleh karena itu, maka dalam setiap jima', Rasulullah SAW mencontohkan untuk selalu meminta perlindungan dari syaithan. Insya Allah ketika syaithan sudah Allah jauhkan, maka keturunan kita akan dilindungi dari sifat2 jahat, sehingga akan dengan mudah menerima didikan-didikan kebaikan.

# Pendidikan waktu mengandung #
Ketika bayi berada di dalam kandungan, bayi bukanlah makhluk yang tidak bisa berinteraksi dan belajar dari lingkungannya. Pada waktu ini, bayi sudah bisa belajar, terutama dari Ibu. Ketika di dalam kandungan, bayi bisa merasakan apa yang dirasakan oleh ibunya, bisa mendengarkan apa yang didengarkan atau diperdengarkan oleh ibunya, dan lain-lain.
Oleh karena itu, sewaktu di dalam kandungan, proses pendidikan ini pun juga harus sudah berjalan. Sang ibu sebaiknya lebih menjaga diri, memperbanyak membaca al quran, membiasakan anaknya dengan shalat wajib dan sunnat (tahajud, dhuha, dll). Kata beberapa orang, memperdengarkan musik klasik bisa membuat anak jadi cerdas. Tapi, mengapa harus musik klasik, yang kebanyakan instrumennya merupakan instrumen yang Allah larang (logikanya, jika Allah melarang, tidak mungkin efeknya baik. Jadi, tidak mungkin membuat seseorang jadi pintar)? Lebih baik sang ibu memperdengarkan anaknya dengan Al Quran, ceramah agama, dan lain-lain yang Allah perbolehkan. Sang ayah pun sebaiknya juga berperan serta dalam mendidik anak sewaktu di kandungan. Sang ayah (bersama Ibu) juga bisa membantu mengajak anak berbicara, menceritakan kebaikan-kebaikan, bercerita tentang kekuasaan Allah, dan lain-lain.

# Pendidikan setelah melahirkan #
Tiba saatnya sang bayi  lahir ke dunia. Tangisan kerasnya akan membuat paru-parunya terpenuhi oleh udara dunia. Setelah lahir, maka satu demi satu organ-organnya akan mulai sempurna. mulai dari indera pendengaran, indera penglihatan, kemudian akalnya (seperti diisyaratkan oleh Al Quran). Karena itulah, maka  setelah melahirkan, proses pendidikan pada anak adalah sesuai dengan urutan-urutan ini. Sejak lahir, maka sebaiknya ayah dan ibu mulai mengajaknya berbicara, membacakannya Al Quran ketika menggendong dan mengajaknya, dan kebiasaan-kebiasaan lain.
Salah satu bagian dari pendidikan yang terkait dengan pendengaran adalah bahasa. Masalah bahasa ini harus dirancang dari awal. Bagaimana caranya agar sang anak mendapatkan bahasa sebanyak-banyaknya dari lingkungannya. Ada satu hal yang cukup mengesan dari kunjungan saya ke Dr Ibrahima. Beliau merancang dan membiasakan anaknya dengan multilanguage. Beliau berbicara dengan anaknya dengan bahasa Wolof (bahasa Senegal), istrinya berbicara dengan bahasa Perancis, orang sekitarnya berbicara dengan bahasa melayu, dan sekolahnya mengajarkan dengan bahasa Inggris. Subhanallah, anaknya yang kecil sudah bisa dua bahasa, yaitu Wolof dan Perancis. Anak beliau yang besar sudah bisa 4 bahasa. Subhanallah. Ini bertentangan sekali dengan apa yang dilakukan banyak orang. Di saat orang tuanya adalah Java speaker medhok, mereka mengajarkan anaknya dengan bahasa Indonesia. Alhasil, anaknya tidak bisa berbicara bahasa Jawa sama sekali, hanya bisa tahu saat orang ngomong Jawa. Kalau skenario di rumah, saya kadang ngomong dengan Marwa dan Dzaki dengan bahasa Inggris, dan istri ngomong dengan bahasa Jawa. Dzaki punya kawan orang melayu, jadi dia akan mendapatkan bahsa melayu dari kawannya.

Kapankah mulai melatih kebiasaan-kebiasaannya?
Untuk melatih kebiasaan-kebiasaan baik, semakin awal semakin baik. Menginjak umur 2 tahun, maka dia akan mulai mempunyai keinginan untuk berkata "tidak". Oleh karena itu, menurut saya, pembiasaan-pembiasaan sebaiknya dilakukan jauh sebelum mereka bisa berkata "tidak". Semakin bertambah usianya, dia akan punya pendirian sendiri dan mungkin menambah kata "tidak"nya. Disuruh ini, "tidak", disuruh itu, "tidak". Teringat dialog antara seorang bapak dan seorang ulama:
Bapak: "sejak kapan saya harus memulai mendidik anak saya?",
Ulama:  "berapa umur anakmu?",
Bapak: "5 tahun"
Ulama: "anda sudah terlambat".

Cerita ini sudah beberapa lama saya dengar dan sekarang saya baru benar-benar merasakannya. Saat ini anak pertama saya, Dzaki, baru menginjak umur keduanya. Sekarang dia sudah mulai bisa berkata "moh" dan sering punya keinginan sendiri yang berbeda dengan keinginan kami. Alhamdulillah kami sudah mulai membiasakan banyak sekali kebiasaan-kebiasaan baik sejak lama (misal membaca basmalah ketika naik mobil, atau mau melakukan aktivitas2 lain, berdo'a sebelum tidur, membaca alhamdulillah setelah bersin, memperhatikan suara adzan dan mendatangi surau untuk shalat, dan lain-lain). Kami merasakan sekali bedanya bagaimana respon Dzaki terhadap kebiasaan-kebiasaan yang sudah kami tanamkan sejak sebelum dia bisa berkata 'moh' itu dengan kebiasaan-kebaisaan yang baru saja ingin kami tanamkan. Kadang kalau dia lagi ngambeg, kadang dia tidak mau melakukan hal yang disuruh (di luar kebiasaan tadi). Tapi meskipun dalam kondisi ngambeg, kebiasaan yang sudah biasa dia lakukan itu pun tetap mau dengan senang hati dia lakukan (kadang kami merasa menyesal, karena ternyata banyak hal-hal yang seharusnya kami biasakan sebelum dia berkata 'moh').

Semoga ini bisa jadi pelajaran kita bersama, termasuk untuk saya sendiri. Semoga kita dan anak kita menjadi generasi-generasi yang shalih shalihah, mujahid/ah yang Allah cintai dan mencintai Allah, bersungguh-sungguh dalam setiap urusannya, dan tidak takut menghadapi masalah masalah di dunia ini. Aamin.

Robbanaa hablanaa min azwaajina wa dzurriyaatina qurrata a'yun waj'alnaa lil muttaqiina imaama.
Robbij'allii muqiimassholaati wa min dzurriyatii. Robbanaa wa taqabbal du'aa'

NB: Pendidikan anak yang muncul dalam tulisan ini hanya secuil dari proses mendidik anak. Pendidikan anak adalah proses panjang, berliku, dan tidak sesimple apa yang ada di tulisan ini. Semoga pada kesempatan lain, saya bisa berbagi pengalaman lain terkait pendidikan anak ini.

No comments: