Sunday, August 15, 2010

Seandainya tidak ada batas-batas negara

Hari ini adalah hari ke-5 saya meneruskan studi saya di Malaysia. Terus terang, karena saya tidak pernah berpisah dengan keluarga demikian lama, demikian jauh, dan demikian terbatas, saya sangat merindukan mereka. Seminggu sebelum ke Malaysia, saya memang juga berpisah cukup lama dengan keluarga.

Lima hari saya berada di Bali untuk menemani adik-adik mahasiswa dalam studi banding dan kunjungan industri. Akan tetapi, banyak hal yang ternyata berbeda. Jika ketika dulu ke bali, kerinduan demi kerinduan. yang ada bisa ditepis dengan SMS dan nelpon (yang tarifnya tidak terlalu mahal), tapi sekarang di Malaysia, jika mau nelpon atau bahkan ditelpon, harus mikir 125 ribu kali karena mahalnya biaya roaming. Untuk menerima telpon saja, kita kena roaming 11.500 per 30 detik. Oh, mahalnyooo....

Dulu beberapa jam sebelum gempa di Jogja, 27 Mei 2007, saya ditelpon cukup lama oleh teman saya yang berada di Aceh. Kalau dipikir-pikir, Aceh kan lebih jauh dari Jogja dibandingkan Malaysia, tapi untuk nelpon dan ditelpon ke dan dari Jogja, biayanya sudah terselisih jauh sekali. Dari Aceh biayanya hanya interlokal (bahkan karena persaingan bisnis, biaya untuk nelpon dan SMS jadi sangat murah), sedangkan dari Malaysia yang lebih dekat dengan Jogja, biayanya adalah internasional, dengan roaming internasional yang alamak mahalnya.

Ketika beberapa saat yang lalu saya pergi ke Batam, Bengkulu, dan lain-lain, ya tinggal datang saja. Kasarannya tinggal milih mau ke sana naik apa, sudah, selesai. Tidak perlu mikir harus bawa paspor, tidak harus ngisi formulir keberangkatan dan kedatangan, tidak harus diperiksa dan ditanya macem-macem di perbatasan, tidak perlu ada biaya fiskal, tidak perlu ngurus visa, dan lain-lain. Di sini saya masih ketir-ketir, karena visa saya adalah visa kunjungan, yang berlaku hanya 30 hari sejak kedatangan saya di Malaysia. Karena dalam beberapa sumber disebutkan bahwa visa akan diurus oleh kampus, maka saya menyerahkan urusan itu ke kampus UTP. Akan tetapi, kata-kata dari bagian Student Support Center kemarin benar-benar membuat saya ketir-ketir. Kata mereka, kemungkinan pengurusan visa dan pembuatan student passnya cukup lama, antara 2 sampai 3 bulan. Dengan demikian, maka selama satu bulan setelah ini, status saya di sini adalah imigran gelap, sampai visa tersebut keluar.

Belumlah lagi masalah duit. Ketika kita ngambil uang, maka charge untuk setiap transaksi pengambilan cukup besar. Saya punya rekening bank mandiri dan bank muamalat. Jika saya mengambil dari bank mandiri, maka charge-nya adalah 20 ribu per transaksi. Saya tidak tahu charge untuk bank muamalat berapa, karena ketika saya tanya di bank muamalat cabang UII dulu, mereka hanya mengatakan bahwa saya bisa mengambil di ATM yang berlogo MEPS atau di cabang bank muamalat malaysia (kebetulan di Ipoh, 1 jam dari tempat saya tinggal, ada cabang bank Muamalat Malaysia). Mereka tidak tahu apakah kena charge jika mengambil di bank muamalat sini plus tidak tahu berapa charge untuk ATM MEPS. Jika di Indonesia, jika kita mengambil di bank lain, selama logonya adalah ATM bersama, tidak perlu lah ada tambahan biaya untuk per transaksi.

Ah, seandainya batas-batas negara itu tidak ada, maka banyak hal yang akan jadi lebih mudah (dan tentunya lagi lebih murah)....


(Arwan Khoiruddin, yang lagi berusaha untuk melakukan quantum postgrad, from very zero to very hero.... Amin...)

No comments: