Skip to main content

Tiada Hari tanpa Belajar, Tiada Minggu tanpa Tamasya

Seorang dosen dituntut untuk selalu belajar, atau dengan bahasanya Pak Gatot Santoso, mantan dekan Fakultas Teknik AKPRIND, seorang dosen itu ditantang, selalu ditantang untuk mengungguli ilmu mahasiswanya. Ya, benar, karena sekali berhenti belajar, maka akan banyak ditinggalkan oleh yang lain, bahkan oleh mahasiswa (kata pak sumarsono, dosen ekonomi manajemen UII, dosen beda dengan guru. Kalau guru boleh tidak belajar. Tapi kalau dosen, tidak boleh tidak belajar).

Semenjak menjadi dosen, aktivitas belajar memang menjadi makanan sehari-hari saya. Entah belajar dari buku, internet, ataupun dari teman atau juga dari mahasiswa. Entah kenapa, belajar kali ini berbeda dengan peristiwa yang sama ketika saya dulu mahasiswa. Nampaknya dulu belajar menjadi sebuah beban, tapi sekarang belajar menjadi sebuah keasyikan tersendiri.

Di sela-sela waktu belajar, nampaknya kita juga harus meluangkan waktu untuk sesuatu yang lain. Dalam bahasa saya, 'sesuatu' itu saya sebut sebagai tamasya. Tamasya ini perlu untuk mengimbangi aktivitas otak yang 'dipaksa' untuk berpikir. Tamasya perlu untuk mengendorkan kembali syaraf-syaraf yang telah tegang karena belajar.

Tamasya tidak selalu harus dimaknai dengan piknik ke luar, belanja, dan sbagainya. Tamasya bisa berarti melihat-lihat kebun, nyirami tanaman, atau sekali waktu pergi ke rumah sakit untuk melihat mereka yang sakit agar kita bisa bersyukur dengan kesehatan kita, atau pergi ke masjid yang belum pernah kita kunjungi, lalu shalat dan tafakur di sana.

Yang penting, yang namanya tamasya adalah mengendorkan kembali pikiran yang tegang, entah apapun bentuknya.

Comments

Popular posts from this blog

Find JIRA issues mentioned in Confluence Page

I have been walking through a lot of pages in internet but have not found any answer except one. However, the answer is not complete, so I will share my experience here. This feature is very useful, especially to summarize the issues found during certain tests, where the tests are reported in a confluence page. I found that there are so many questions about this, but Atlassian seems does not want to bother with this request. I found one way to do this by the following tricks Take one JIRA issue that related to the target confluence page (in this case, say it is GET-895) Find the global ID of a JIRA issue: http://bach.dc1.scram.com:8080/rest/api/latest/issue/GET-895/remotelink It will show the JSON like this: [{"id":28293,"self":"http://bach.dc1.scram.com:8080/rest/api/latest/issue/GET-895/remotelink/28293","globalId":"appId=662e1ccf-94da-3121-96ae-053d90587b29&pageId=105485659","application":{

Mininet/Containernet Problem: Exception: Error creating interface pair (s2-eth5,s3-eth1): RTNETLINK answers: File exists

If you did not shut down the previous running mininet/containernet network (e.g. if you lose your connection to remote server), you will got the following error when you try to rerun your mininet network Traceback (most recent call last): File "./mynet.py", line 31, in <module> net.addLink(d2, s1) File "build/bdist.linux-x86_64/egg/mininet/net.py", line 403, in addLink File "build/bdist.linux-x86_64/egg/mininet/link.py", line 430, in __init__ File "build/bdist.linux-x86_64/egg/mininet/link.py", line 474, in makeIntfPair File "build/bdist.linux-x86_64/egg/mininet/util.py", line 202, in makeIntfPair Exception: Error creating interface pair (d2-eth0,s1-eth2): RTNETLINK answers: File exists In order to solve the problem, you need to clean up the previous running topology by using the following command sudo mn -c It will clean up all your cache. It will be something like this $ sudo mn -c *** Re

Akte, paspor, dan visa untuk anak Indonesia yang lahir di Malaysia

Alhamdulillah, akhirnya urusan administrasi kenegaraan-nya Marwa sudah hampir selesai. Kemarin sore, di paspor marwa sudah ada visa pelancong selama 30 hari, tinggal nunggu proses di Putrajaya selama 7 hari untuk mendapatkan Multiple Entry-nya. Selepas itu, selesai.... Di dalam tulisan ini, saya pengen sedikit cerita pengalaman saya mengurus administrasi untuk anak Indonesia yang lahir di Malaysia (saya tidak tahu apakah untuk di negara lain prosedurnya juga sama). #1. Administrasi di klinik terdekat (sebelum melahirkan) Sebelum istri melahirkan, istri disarankan untuk mendaftar dan memeriksakan kandungannya secara rutin di klinik terdekat (meskipun hanya klinik, tapi fasilitas pemeriksaan dan labnya cukup lengkap dan canggih). Pada fase ini, istri akan diberi buku pemeriksaan. Buku ini penting untuk mengetahui kondisi si ibu, dan perkembangan janin. Buku ini akan diisi oleh dokter atau perawat yang memeriksa kandungan. #2. Administrasi setelah melahirkan Di klinik biasanya tid